Kompak "Disapa" Omicron

Omicron. Om yang satu ini bukan panggilan untuk adik lelakinya orang tua kita, melainkan sebuah varian dari virus corona yang "diperkenalkan" oleh WHO ke publik dunia pada 26 November 2021. Berdasarkan riset para ahli, gejala omicron tak separah varian delta, namun tetap waspada bagi kelompok rentan (lansia, komorbid).

Qadarullah, keluarga kami "disapa" omicron beberapa waktu lalu. Aku duluan yang sakit, baru kemudian keluargaku. Gejalanya mulai kerasa pada tanggal 1 Januari 2022 malam. Berupa demam, pusing, meriang, kaki pegal kayak habis lari 10K, tenggorokan gatal, batuk, pilek dan hidung tersumbat. Seminggu sebelumnya (25 Desember 2022), kami menghadiri sebuah acara di Cibubur. Lokasi acaranya ramai sekali, prokes pun diterapkan : pakai masker double, rajin cuci tangan pakai air atau handy clean, jaga jarak aman (walau di beberapa titik sukar menghindari kerumunan). Mungkin di acara itu aku terpapar virus omicron πŸ€” Allahu'alam bishawab. Syukurlah setelah 3 hari "teler", hari ke-4 (4 Januari 2022) kondisiku agak mendingan. Demam, pusing, pegal berangsur-angsur hilang, tinggal batuk, pilek, hidung mampet yang masih kerasa.

Ramuan Herbal Samilakor

Ketika isoman, selain minum obat dan suplemen (vitamin), aku juga mengonsumsi jamu tolak angin & ramuan herbal untuk booster antibody. Samilakor [Sari Minuman Lawan Korona] nama ramuan herbalnya, terbuat dari rempah-rempah seperti jahe, kunyit, sereh, temulawak, kencur, lemon, dan daun bambu. Resep Samilakor tersebut ditemukan oleh Bu dokter Tifa dan tim penelitinya. Menurut kesaksian (testimoni) banyak orang, samilakor (dengan izin Allah) ampuh menetralisir gejala covid & memperkuat daya tahan tubuh. Karena itulah, aku tertarik mencoba samilakor. [*tapi tetap mengonsumsi obat dan suplemen, saling melengkapi gitu antara obat kimia & obat/ramuan herbal] 

Samilakor bisa dibikin sendiri seperti ini atau (kalo gak mau repot) beli jadi aja, di marketplace banyak yang jual. Aku dulu beli di sini . Udah 2x beli, recommended seller πŸ‘ 



Samilakor [dokumen pribadi]


Kegiatan Produktif Masa Isoman

Oke, balik ke laptop! Berhari-hari ngendon di kamar, tentu bosan bin gabut ya. Tapi mau berkeliaran juga gak boleh, karena ku tak sebebas merpati #eh karena masih bergejala. So demi memotong mata rantai penyebaran virus omicron yang cepat menular, kita perlu memutar otak cari ide kegiatan, agar masa isoman terasa lebih menyenangkan. Salah satunya dengan membaca, baik itu membaca buku/majalah kertas maupun baca buku/majalah digital (e-book e-magazine) di smartphone. Periode isoman jadi kesempatan terbaik untuk menyelesaikan satu per satu waiting list bahan bacaan yang ingin dituntaskan. Khusus e-book/e-magazine, hati-hati ya, jangan sampai kita membacanya dari sumber ilegal, misalnya dari link yang tersebar di grup chatting (WA/Telegram). Bukan wawasan/pengetahuan yang didapat, melainkan dosa karena telah merugikan penulis serta redaksi/penerbit buku & majalah. Ada beragam pilihan dan cara membaca buku digital secara legal, misalnya begini .  

Kronologi Keluargaku Terjangkit Omicron

Oke, back to laptop again! Usai isoman (kurang lebih) 2 minggu, Alhamdulillah negatif. Tapi badan baru benar-benar pulih seperti sedia kala sekitar tiga minggu. Jadi setelah negatif itu, masih ada bekas-bekas gejalanya, terutama batuk, walau udah gak sengikil seperti minggu pertama gejala. 

Beberapa hari kemudian, Jumat 21 Januari 2022, kakak sulung sekeluarga ada perlu ke Bandung. Aku gak ikut, tetap di Jakarta bareng mbak PRT. Hari Ahad 23 Januari 2022, kakak family balik dari Bandung. Dua hari kemudian, Salma ponakanku, merasa badannya gak enak. Gejalanya agak mirip denganku waktu itu : demam, radang tenggorokan, batuk, hidung mampet. Lantas ia minum obat flu, namun belum terlalu mempan. Tanggal 31 Januari 2022 Salma family melakukan tes PCR, dan hasilnya positif covid omicron. Aku dan mbak PRT auto social distancing dan pakai masker double . Esok  harinya pas libur tahun baru Imlek, aku dan mbak PRT gantian melakukan tes di klinik. Alhamdulillah, kami berdua negatif. Sampai rumah, kami langsung beres-beres pindahan ke kontrakan dekat rumah. Sedangkan nephew Arul menginap di tempat lain, sebelum dia balik ke Purwokerto untuk kuliah tatap muka.



Aku setelah tes covid [dokumen pribadi]

Lantas aku sempat terpikir juga, apakah Salma family kena covid karena ketularan aku atau mereka tertular di Bandung ya? Soalnya jarak waktu aku sembuh dengan mereka pergi ke Bandung itu semingguan. Dua hari setelah balik dari Bandung, ponakan mulai bergejala, sedangkan masa inkubasi omicron sekitar 2-3 hari. Berarti kemungkinan mereka ketularannya di Bandung dong ya? Allahu'alam bishawab.

Ketika Salma family isoman, kondisi mereka dipantau oleh tim satgas covid RT. Alhamdulillah gak ada stigma or semacamnya, tetangga very helpful selama keluarga kami isoman. Tanggal 8 Februari 2022 Salma family tes rapid antigen, Alhamdulillah hasil tesnya negatif 🀲 Aku dan mbak PRT balik ke rumah 4 hari kemudian, setelah rumah dibersih-bersih (desinfektan) dari virus corona. Qadarullah tetangga kami di rumah kontrakan ada yang positif covid, jadilah kami mesti cepat-cepat pindah ke rumah. Daripada ketularan lagi, ye kan? Kata leluhur, mencegah lebih baik daripada mengobati 😊

Perbedaan Varian Delta dan Omicron

Qadarullah, kami sekeluarga semuanya pernah covid dan diizinkan Allah menjadi covid survivors. Aku dan kakak ipar 2x positif (varian delta tahun lalu & omicron tahun ini). Kakak sulung dan Salma sekali (omicron), mbak PRT pun sekali (delta tahun lalu). Nephew Arul yang Alhamdulillah badannya masih terjaga dari virus corona. Sehat-sehat ya, Rul.

Setelah dua kali dihinggapi virus corona, aku jadi tahu perbedaan gejala varian delta dan omicron.

Delta : demam, batuk, pilek, hidung tersumbat, pusing, kaki pegal, radang tenggorokan, diare, anosmia (hilang penciuman).

Omicron : demam, batuk, pilek, hidung tersumbat, pusing, kaki pegal, tenggorokan gatal.

Di aku, omicron gak menyebabkan diare dan anosmia. Tapi mungkin tiap orang beda-beda kali ya gejalanya, bahkan ada yang tanpa gejala (OTG).

Sepintas, gejala varian omicron 'lebih ringan' dari varian delta. Tapi yaa seringan-ringannya omicron, masih lebih baik sehat body sih. Siapa juga yang kepengen sakit? Tapi yaa balik lagi ke takdir, walau kita dah ikhtiar taat prokes semaksimal mungkin, kalo emang takdirnya kena yaa bakal kena juga. Namun semoga sakitnya untuk membuat daya tahan tubuh kita lebih kuat, serta buat menggugurkan dosa-dosa πŸ€²πŸ™ 

Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus-menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya." (HR Muslim).

Anyway busway, selalu waspada ya Kawan-Kawan, karena pandemi corona belum usai. Vaksin memang sudah tersedia, tapi bukan berarti kita boleh bebas beraktivitas tanpa mengindahkan prokes yang berlaku. Sudah di vaksin pun juga bukan berarti kita kebal dari segala penyakit. So, selalu ingat untuk patuh prokes, serta jalankan gaya hidup sehat πŸ’ͺ Sebab perjuangan mengatasi pandemi COVID-19 tak hanya tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan saja, tapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama. 😊 


*Postingan kedua, PR ngeblog di kelas Ruang Aksaraku .



Memorable Moment Masuk Angin

Kalian pernah masuk angin? Pasti pernah ya, minimal sekali seumur hidup lah 😁 Dari sekian masuk angin yang melanda, mungkin ada yang paling berkesan, memorable, gak bisa dilupakan. 

Dan, kebetulan aku ada memorable moment masuk angin πŸ˜…

Terjadi tahun 2018 silam. Abis kelar suatu urusan di kampung halaman Malang, balik ke Jakarta naik kereta. Nah, AC di kereta dingin banget dan aku lupa bawa jaket dong 🀦🏻‍♀️ Jadilah aku menggigil serrr serrr selama perjalanan di ular besi itu πŸ₯Ά 

"Please jangan masuk angin, biar besok bisa nonton konser Guns N' Roses di GBK Senayan..." ujarku dalam hati ber-H2C harap-harap cemas πŸ˜₯ Yaa gimana gak cemas, tiket konser udah siap sedia. Eh ndilalah, sampai rumah perut mules-mules, kepala pening, sering buang gas pula 🀒 Langsung minta tolong dikerokin sama Mak Alip (Bu PRT), berharap I feel better

Sayangnya, perut dan kepala gak bisa diajak kompromi πŸ˜‘πŸ˜’ So hari itu batal deh nonton aksi panggung Axl Rose cs, padahal dah nunggu-nunggu banget lihat mereka tampil dengan mata kepala sendiri 😭😭

Pertimbangannya, daripada di venue nanti aku bolak-balik ke toilet gegara masuk angin, jadinya yaa terpaksa membiarkan tiket konser itu hangus *hiks πŸ’ΈπŸ˜”πŸ˜’  Jadi menyesal deh, kenapa aku katrok bin ndeso gini. Baru kena AC kereta aja langsung masuk angin, gimana mau bisa tinggal menetap di Europe coba? *eaaah ngayal mode on 🀣 

                                 

                                                               doc. pribadi


Hikmahnya >> kudu rutin minum #tolakangin nih, agar badan fit πŸ’ͺ🏻 biar aktivitas lancar jaya πŸ˜ŽπŸ€“

FYI, Tolak Angin obat tradisional yang mengandung kombinasi berbagai herbal alami, seperti ekstrak buah adas, daun cengkeh, kayu ules, daun mint, jahe, dan madu. Kombinasi semua bahan tersebut dipercaya dapat mengatasi gejala masuk angin, sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Selain pas masuk angin, aku minum Tolak Angin ketika gejala flu menyergap. Setelah minum beberapa sachet, Alhamdulillah sembuh. 

Nah, sekarang aku ingin tahu, bagaimana pengalaman masuk angin kalian? Cerita-cerita yuk, Kawan 😊



*Mohon maaf, postingan ini mengandung iklan, walau gak bermaksud ngiklan #ehgimana ✌🏻😁

*Postingan perdana belajar ngeblog di kelas Ruang Aksaraku .


Nasabah Bijak, Jangan Mau Dibajak